Hari-hari berlalu di pulau asing itu, dan Sherly semakin berani menunjukkan ketertarikannya pada Lynx. Gadis cantik itu terus berusaha menarik perhatian Lynx dengan segala cara, namun Lynx selalu berusaha menolaknya dengan halus.

Suatu malam, saat Lynx sedang berjaga sendirian di dekat api unggun, Sherly tiba-tiba keluar dari gua dan menghampirinya. Gadis itu duduk berdekatan dengan Lynx, lalu berkata dengan nada manja, "Lynx, apa kau tidak bisa menemaniku di dalam? Aku merasa sangat dingin di sini."

Lynx tersenyum canggung, lalu berusaha menjauhkan diri. "Sherly, kau sebaiknya kembali ke dalam. Aku akan menjaga kalian disini."

Namun, Sherly tidak menyerah. Ia semakin mendekat, lalu berbisik di telinga Lynx, "Tapi aku ingin bersamamu, Lynx. Aku merasa aman jika ada kau di dekatku."

Lynx menelan ludah, berusaha menahan diri. "Sherly, kumohon mengertilah. Aku tidak bisa melakukan itu."

Sherly menatap Lynx dengan tatapan memohon, lalu berbisik, "Tapi Lynx, aku ingin kau menyentuhku. Aku ingin kau melakukan apa saja padaku."

Lynx terkejut mendengar ucapan Sherly. Ia segera berdiri dan menjauh, berusaha menghindari gadis itu. "Sherly, hentikan. Aku tidak bisa melakukan itu. Aku sudah ada gadis yang disukai, bukan kau."

Sherly tampak terkejut, lalu menatap Lynx dengan pandangan tidak percaya. "Apa? Apakah gadis yang kau sukai itu Leena? Tapi kenapa?"

Lynx menghela napas, lalu berkata, "Maafkan aku, Sherly. Tapi aku tidak bisa membalas perasaanmu. Aku hanya menganggapmu sebagai teman."

Sherly terdiam sejenak, lalu tiba-tiba air matanya mengalir. "Tapi Lynx, aku menyukaimu. Kenapa kau lebih memilih Leena?"

Lynx merasa iba melihat Sherly menangis, namun ia tetap bersikukuh pada pendiriannya. "Maafkan aku, Sherly. Aku tidak bisa memaksakan diriku untuk menyukaimu. Aku harap kau bisa mengerti."

Sherly menghapus air matanya, lalu menatap Lynx dengan pandangan penuh kemarahan. "Kau... kau jahat, Lynx! Kenapa kau lebih memilih Leena daripada aku?"

Lynx menghela napas, lalu berkata, "Sherly, aku menghargai perasaanmu, tapi aku juga harus jujur padamu tentang perasaanku pada Leena."

Sherly tampak tidak terima, lalu berseru, "Tapi kenapa, Lynx? Apa yang kurang dariku? Aku jauh lebih cantik dan seksi daripada Leena!"

Lynx menghela napas, lalu berkata dengan lembut, "Sherly, aku tidak ingin membahas hal ini, kita harus fokus untuk bertahan dan mencari jalan keluar dari pulau ini ."

Sherly terdiam, lalu tiba-tiba ia melepas pakaiannya, memperlihatkan tubuhnya yang indah. "Lynx, lihatlah aku. Apa kau benar-benar tidak tertarik dengan tubuhku?"

Lynx terkejut melihat pemandangan di hadapannya. Lynx terpana dengan keindahan tubuh Sherly. Ia memandang dari atas ke bawah dan menatap ke bagian intim Sherly. Namun tidak lama kemudian Ia segera mengalihkan pandangannya, berusaha menahan diri. "Sherly, hentikan! Aku tidak bisa menerima ini. Ditempat ini banyak bahaya dan apapun bisa terjadi pada kita, karena itu kita harus lebih fokus dengan masalah didepan kita." Kata Lynx dengan cukup kesulitan.

Sherly tertawa kecil, dia bisa melihat bagian intim Lynx terbangun dan pakaian yang Lynx gunakan tidak bisa menutupi hal itu. Sherly tetap merayu Lynx, duduk disamping dan membelai wajah Lynx

“Aku tahu kamu menyukaiku, kamu tidak bisa membohongiku. Tubuhmu tidak bisa berbohong.” Kata Sherly. Mendadak Lynx berdiri dengan kaget ketika Ia merasakan jari tangan Sherly menyentuh alat vitalnya.

“Cukup Sherly, Aku tidak mau dirimu sejauh ini”. Sambil beranjak pergi masuk kedalam gua meninggalkan Sherly.

Saat Lynx memasuki gua, Chiko yang selalu waspada terbangun. Lynx berbohong dengan mengatakan dia mendadak merasa sangat mengantuk dan meminta Chiko bergantian berjaga. Tidak lama Chiko keluar dari gua, dia melihat Sherly yang duduk di depan api unggun. Sherly yang sudah mengenakan kembali pakaiannya awalnya merasa senang mendengar suara mendekat, Dia berpikir Lynx kembali, saat menoleh dia cemberut dan kesal karena ternyata yang datang adalah Chiko.

“Chiko, kenapa kamu yang kesini. Mana Lynx ?” tanya Chiko dengan angkuhnya.

Chiko menjelaskan jika Lynx terlihat sangat lelah sehingga mereka bergantian berjaga. Sherly pun yang tidak mengantuk memilih diam merenung di depan api unggun.

Lynx didalam gua merenung dan berpikir “Ah… bisa bahaya aku disini jika sering melihat dua gadis seksi telanjang didepanku. Andai saja….” Lynx berandai-andai sambil mengenang kembali awal mula bertemu Leena. Ia masih sering memandang Leena sambil membayangkan saat-saat Leena belum memiliki pakaian. Lynx sangat tergoda, dan tanpa disadarinya dia tertidur.

Tidak lama, Leena yang terbiasa terbangun tengah malam, melihat Lynx di dekatnya. Dia memandangi wajah Lynx yang kelelahan, lalu secara perlahan dia keluar gua untuk ikut berjaga.

Sherly yang melihat Leena datang, mendengus dan memalingkan wajah. Dia masih merasa sakit hati dengan kata-kata Lynx. “Aku tidak akan menyerah Lynx.” katanya didalam hati.

Mendadak selintas senyum terlihat diwajah Sherly, dia mendapatkan ide karena merasa mendapatkan kesempatan untuk mendekati Lynx yang sendirian di dalam gua.

“Sherly, beristirahatlah, kamu terlihat sangat mengantuk.” Kata Chiko melihat Sherly sering menguap. “Terima kasih Chiko, aku akan tidur duluan.” Cherly segera beranjak kembali ke gua. Chiko yang selalu perhatian kepada Sherly tidak menduga jika Sherly hanya berpura pura mengantuk agar bisa menjalankan aksinya.

Di dalam gua, Sherly melihat Lynx yang tertidur nyenyak. Sherly segera melepas semua pakaiannya dan tidur disamping Lynx. Ia memposisikan dan menggerakkan tangan Lynx menyentuh kedua bukit kembarnya. Sherly mendesah perlahan “Ahh..Lynx….”.

Lynx yang terlalu lelap tertidur tidak menyadari apa yang dilakukan Sherly, namun tubuhnya tetap bereaksi menerima rangsangan. Sherly melihat selangkangan Lynx dimana alat vitalnya berdiri dengan kerasnya.

Sherly merasa senang melihatnya, lalu dia teringat hal yang disukai pria. Sherly memutar tubuhnya dan memegang alat vital Lynx, Ia berencana memasukkan kedalam mulutnya agar Lynx menikmati dan menjadi miliknya.

Lynx mendadak terbangun karena merasa ada yang memegang alat vitalnya dan kaget melihat apa yang dilakukan Sherly. “Sherly, apa yang kamu lakukan?” bentak Lynx dengan ekspresi kaget masih terlihat diwajahnya.

“Lynx, aku ingin memuaskanmu. Aku ingin membuktikan bahwa kamu tidak akan menyesal memilihku, aku akan melakukan apapun yang kamu inginkan.” Kata Sherly dengan genitnya.

Sherly terdiam sejenak, lalu tiba-tiba ia memeluk Lynx dengan erat, membuat Lynx terkejut. "Lynx, kumohon... aku ingin menyerahkan diriku kepadamu," pintanya dengan nada terdengar menggoda.

Lynx berusaha melepaskan diri dari pelukan Sherly, namun gadis itu semakin erat memeluknya. "Sherly, lepaskan aku. Aku tidak bisa menerima ini," ujarnya dengan nada tegas.

Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki mendekat. Chiko dan Leena yang selalu waspada segera berlari menuju gua saat mendengar suara keras dari Lynx.

Lynx dan Sherly menoleh dan mendapati Chiko dan Leena berdiri di dekat mereka, menatap mereka dengan pandangan terkejut.

"Apa yang terjadi di sini?" tanya Chiko dengan nada cemas.

Leena menatap Lynx dan Sherly dengan pandangan tidak suka. "Lynx, apa yang kau lakukan dengan Sherly?" tanyanya dengan nada ketus.

Lynx segera melepaskan diri dari pelukan Sherly, lalu berusaha menjelaskan. "Leena, Chiko, ini tidak seperti yang kalian pikirkan. Sherly yang..."

Namun, sebelum Lynx sempat menyelesaikan kalimatnya, Sherly memotong. "Ini urusanku dengan Lynx, kalian tidak perlu ikut campur!" serunya dengan nada marah karena merasa terganggu. Ia melepaskan Lynx dan berusaha menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya agar tidak terlihat oleh Chiko dan Leena.

Leena menatap Lynx dengan pandangan tidak percaya, sementara Chiko tampak kecewa. "Lynx, aku tidak menyangka kau bisa melakukan hal seperti itu," ujar Chiko dengan nada sedih.

Lynx berusaha membela diri, "Tidak, kalian salah paham! Aku tidak melakukan apa-apa. Sherly yang..."

Namun, Leena tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan. Gadis itu segera berbalik dan pergi meninggalkan mereka, air mata mengalir di pipinya. Dia duduk didepan api unggun berusaha menahan sesak didadanya.

Sherly tersenyum penuh kemenangan, lalu berkata, "Lynx, Jangan hiraukan mereka! Tidak perlu memperdulikan mereka."

Lynx menatap Sherly dengan pandangan tidak percaya. "Sherly, kenapa kau lakukan ini?" tanyanya dengan nada frustasi.

Sherly hanya tersenyum sinis, lalu berkata, "Aku hanya ingin Leena tahu siapa yang sebenarnya kau sukai, Lynx."

Lynx segera keluar gua menyusul Leena, berniat menjelaskan semuanya. Namun, gadis itu sudah terlanjur sakit hati. Lynx hanya bisa duduk didekatnya dengan perasaan bersalah.

Sementara itu, Sherly tersenyum puas. Ia telah berhasil memisahkan Lynx dan Leena, dan kini ia merasa semakin yakin untuk mendapatkan Lynx untuknya sendiri.

Chiko yang menyaksikan semua kejadian itu merasa sangat sedih dan kecewa. Ia tahu bahwa Sherly telah memfitnah Lynx, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Chiko menghampiri Sherly dengan pandangan sedih. "Sherly, kenapa kau lakukan ini? Kau tahu Lynx tidak mungkin melakukan hal itu," ujarnya pelan.

Sherly hanya menatap Chiko dengan pandangan meremehkan. "Diam saja, Chiko. Ini urusanku dengan Lynx, bukan urusanmu."

Chiko menunduk, merasa terluka dengan sikap Sherly. "Tapi Sherly, aku... aku menyukaimu. Kenapa kau lakukan ini?"

Sherly tertawa sinis. "Menyukaimu? Jangan bodoh, Chiko. Aku hanya menginginkan Lynx, bukan kau."

Chiko mengepalkan tangannya, menahan air mata yang hampir jatuh. "Kenapa, Sherly? Apa yang kurang dariku? Aku selalu berusaha membuatmu bahagia, tapi kau selalu mengabaikanku."

Sherly mendengus. "Kau terlalu lemah, Chiko. Aku butuh pria yang kuat dan bisa melindungiku, bukan pria lemah sepertimu."

Chiko merasa hatinya seperti dihantam ribuan jarum. Ia menatap Sherly dengan pandangan terluka. "Jadi... apa yang kau inginkan dariku, Sherly? Apa yang harus kulakukan agar kau melihatku?"

Sherly menatap Chiko dengan pandangan dingin. "Tidak ada yang bisa kau lakukan, Chiko. Aku hanya menginginkan Lynx, dan aku akan mendapatkannya dengan cara apapun."

Chiko menunduk, merasa putus asa. Ia tahu bahwa Sherly tidak akan pernah membalas perasaannya, tapi ia tidak bisa membiarkan gadis itu terus menyakiti orang lain.

“Leena, aku sungguh tidak melakukan apapun…” Belum selesai kata-kata Lynx, segera dipotong Leena dengan nada menyindir “Itu adalah urusan kalian, aku tidak ingin ikut campur”. Lalu dia bangun kembali ke gua.

Lynx hanya bisa memperhatikan kemana Leena melangkah lalu duduk merenungi semua yang terjadi.

Chiko dan Sherly yang melihat kedatangan Leena hanya terdiam. Leena segera memposisikan dirinya untuk tidur sambil menahan gejolak di dadanya.

Setelah meminta Sherly untuk beristirahat, Chiko keluar menemani Lynx. Malam itu, hanya kesunyian yang mereka rasakan. Tidak ada satupun kata-kata keluar dari mereka.

Keesokan paginya, Lynx yang hendak kembali ke gua untuk beristirahat melihat Leena melangkah keluar gua. Lynx menyapanya namun Leena bersikap seolah-olah tidak ada orang disekitarnya. Ia mengabaikan Lynx dan terus berjalan ke arah hutan.

Lynx yang merasa mengantuk, tetap melanjutkan langkahnya memasuki gua, namun mendadak dia merasakan rasa yang tidak nyaman. Dia teringat kemana Leena pergi dan mulai khawatir. Lynx kembali keluar gua, dan mencari sosok Leena namun tidak ditemukan.

Lynx terus mencari Leena, berharap bisa menjelaskan semuanya. Ia tahu bahwa Leena pasti sangat kecewa dan marah padanya. Dia mencoba pergi ke arah terakhir kali Leena terlihat sebelumnya.

Sementara itu, di tepi sungai, Leena berjalan dengan langkah gontai. Ia tidak bisa menahan air matanya yang terus mengalir. Gadis itu merasa begitu kecewa dan terluka.

Tanpa dia sadari, Leena terus berjalan tanpa memperhatikan bahaya disekitarnya. Tiba-tiba, sesuatu yang besar bergerak di sampingnya, membuat Leena terkejut.

"Buaya!" jerit Leena, berusaha melarikan diri. Namun, buaya itu terlalu cepat dan langsung menyambar kakinya.

Lynx dari kejauhan melihat sosok Leena berjalan ke arah sungai, tiba-tiba Lynx merasa kaget melihat ada seekor buaya sedang berada di tempat itu, dan Leena terlihat tidak menyadari keberadaan buaya tersebut. Ia melihat Leena dalam bahaya dan tanpa berpikir panjang, ia langsung mengambil sepotong kayu kering yang ada di dekatnya dan berlari.

Dengan sekuat tenaga, Lynx memukul mulut buaya itu agar Leena aman.

Leena yang terselamatkan berkat Lynx, terdiam gemetar tidak mampu bergerak.

“Leena, lari! Cepat lari…” teriak Lynx berulang kali berusaha menyadarkan Leena.

Buaya yang marah karena melihat mangsanya gagal ditangkap, kembali bergerak untuk menggigit Leena, namun Lynx dengan sigap mengambil batu besar di sekitarnya dan melemparkan ke arah mata buaya.

Buaya segera mengalihkan perhatiannya ke Lynx dan berusaha menerkamnya. Sementara Leena yang sudah pulih dari keterkejutannya segera berlari menghindar. Selisih sedetik dari Leena berlari, ekor buaya memukul tepat di tempat Leena awalnya terdiam.

Lynx bersyukur karena Leena tidak terkena pukulan ekor buaya, lalu dia mengambil batu-batu lainnya dan mulai melempari buaya untuk tetap mengalihkan perhatian.

Leena, yang melihat Lynx dalam bahaya, berteriak, "Lynx, pergi dari sini! Selamatkan dirimu!"

Namun, Lynx tidak menggubris. Ia mengambil kayu dan terus memukul buaya itu, berusaha mengalihkan perhatiannya dari Leena. Ia tidak peduli dengan resikonya sendiri, yang terpenting baginya adalah menyelamatkan Leena.

Buaya itu tampak semakin marah, ia mencoba menerkam Lynx. Namun, Lynx dengan cepat menghindari serangan itu dan kembali memukul kepala buaya tersebut.

Pertarungan sengit itu terus berlangsung, Lynx berusaha sekuat tenaga untuk mengalahkan buaya itu, namun Lynx mulai merasa kelelahan. Leena, yang menyaksikan semua itu, hanya bisa terdiam dengan perasaan campur aduk.

Akhirnya, setelah beberapa saat, Lynx melihat celah dan dengan sekuat tenaga, ia memukul kepala buaya itu sekali lagi, lalu berlari ke arah hutan untuk menghindari buaya tersebut.

Leena, yang melihat Lynx berhasil melarikan diri dari buaya itu, segera berlari ke arah yang dituju Lynx . Setelah berhasil menjauh dari sungai dan berada dekat dengan gua, Gadis itu memeluk Lynx dengan erat, air mata mengalir di pipinya.

"Lynx, kau menyelamatkanku," ujar Leena di sela-sela isak tangisnya.

Lynx membalas pelukan Leena, lega melihat gadis itu selamat. "Maafkan aku, Leena. Aku tahu kau pasti kecewa padaku, tapi aku tidak bisa membiarkanmu terluka."

Leena menatap Lynx dengan pandangan lembut. "Aku memaafkanmu, Lynx. Aku tahu kau tidak bersalah."

Mereka berdua saling berpelukan, menikmati kebersamaan mereka. Namun, tanpa mereka sadari, Sherly memperhatikan mereka dari kejauhan dengan pandangan penuh kemarahan.

"Tidak! Ini tidak boleh terjadi!" geram Sherly, mengepalkan tangannya dengan erat. Ia tidak akan membiarkan Leena merebut Lynx darinya.

Sherly segera bergerak, berniat menghancurkan momen kebersamaan Lynx dan Leena. Ia tidak akan membiarkan siapapun menghalangi jalannya untuk mendapatkan Lynx.

Dengan langkah cepat, Sherly menghampiri Lynx dan Leena yang masih berpelukan. Wajahnya dipenuhi amarah dan kecemburuan.

"Lynx! Apa yang kau lakukan?" seru Sherly dengan nada tinggi.

Lynx dan Leena langsung menoleh, terkejut melihat Sherly berdiri di dekat mereka.

"Sherly? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Lynx, masih merangkul Leena.

Sherly menatap Leena dengan pandangan sinis. "Leena, ternyata kau masih berusaha merebut Lynx dariku, ya?"

Leena balas menatap Sherly dengan tajam. "Apa maksudmu, Sherly? Aku tidak merebut siapa-siapa. Lynx yang menyelamatkanku dari buaya tadi."

Sherly mendengus. "Menyelamatkan? Jangan bercanda. Aku yakin kau sengaja membuat dirimu terluka agar Lynx memperhatikanmu."

Lynx berusaha melerai. "Sherly, hentikan. Apa yang kau bicarakan? Leena tidak bersalah dalam hal ini."

Namun, Sherly tidak mau mendengar. Ia terus menyerang Leena dengan tuduhan-tuduhan. "Kau pikir kau bisa merebutnya dariku, huh? Lynx adalah milikku!"

Leena merasa marah dan tersinggung. "Apa? Kau gila, Sherly! Lynx bukan milik siapa-siapa. Dia berhak memilih siapa yang dia sukai."

Sherly tertawa sinis. "Hah, jangan bercanda. Lynx hanya akan memilihku, bukan gadis lemah sepertimu."

Lynx mencoba menengahi. "Hentikan, Sherly! Leena benar, kami hampir menjadi mangsa buaya."

Sherly terkejut mendengar pernyataan Lynx. Ia menatap Lynx dengan pandangan takut. "Apa? kalian sungguh bertemu buaya? Dimana buaya itu sekarang?"

Lynx menatap Sherly. "Buaya itu ada di sungai dan kami berhasil meloloskan diri. Kita harus kembali ke gua untuk beristirahat"

Mereka bertiga lalu berjalan bersama, kembali menuju gua tempat mereka tinggal. Meskipun masih ada sedikit kekhawatiran tentang Sherly, Lynx merasa lega karena akhirnya Leena memaafkannya.

Di tempat lain, Chiko berjalan seorang diri, hatinya terasa berat. Ia tahu bahwa Sherly telah menyakiti Lynx dan Leena, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Pemuda itu menghela napas panjang, lalu berkata dalam hati, "Sherly, kapan kau akan berhenti menyakiti orang lain dan melihatku?"

Setelah sampai di gua, Sherly berhenti sejenak, lalu mengepalkan tangannya dengan erat. "Aku tidak akan menyerah, Lynx. Kau akan menjadi milikku, bagaimanapun caranya."

Dengan tekad yang membara, Sherly kembali berjalan, siap untuk melakukan apapun demi mendapatkan Lynx.

Setibanya di gua, Lynx menceritakan kejadian tersebut kepada Chiko dan memperingatkannya untuk berhati-hati kedepannya saat mereka ke sungai.
